41955.jpg

Kamu benar soal bagaimana wajahku sekarang penuh rona, bahkan hadirnya sudah sejak puluhan menit sebelumnya—saat kamu mengatakan akan hadir di halaman rumahku dalam kilas jumpa kita yang tak seberapa lama.

Kamu datang dengan harum yang telah mengikat memoriku di kepala, meminta aku menghafalnya seumpama mantra penyelamatku dari angkara dunia.

Maka, di dalam kotak mesin milikmu yang remang, aku duduk di sampingmu malu-malu. Jemariku bertaut beradu, mataku tak mampu menatap wajahmu, bicaraku hanya kata-kata sambil lalu.

Sungguh, tidak mampu aku, Mingyu. Ternyata berada di dekatmu selalu menciptakan dilema antara: perlukah aku tahan binalku atau bolehkah jika aku terus maju?

Kamu tidak banyak merayu, tapi jantungku terus bertalu-talu. Asal kamu tahu, wajahku tak lekas hilang dari semu.

Apalah kita ini? Usia dewasa kita rasanya kalah dengan reaksi hati. Toh aku masih tetap berdebar ketika kelingkingku kamu genggam oleh telapak tangan kasar yang kamu miliki.

“Kepala kamu, sini!” kataku berusaha menepati janji.

Lalu kamu hadapkan diri ke arahku sambil tersenyum semanis madu. Kepalamu menunduk di depan wajahku, tak perlu waktu lama untuk kutangkup dengan jemariku.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Aku belai rambutmu yang telanjur basah oleh peluh tanpa merasa rikuh.