
Sejak kita berjumpa, aku sudah menyiapkan dua kotak tabungan. Yang satu untuk menabung kasihku, yang satu untuk menabung kisah kita. Jadilah aku beri nama mereka kasih dan kisah, berjalannya berdampingan karena kita senantiasa menciptakan kisah kasih sama-sama.
Kamu pasti tahu yang berisi kasihku itu kotaknya terlalu kecil untuk menampung isinya yang setiap detik selalu bertambah lebih banyak. Banyak sekali, Mingyu. Saking banyaknya sampai ia memenuhi seluruh rumah kita. Mungkin di hari-hari ke depan, ia bisa juga memenuhi satu dunia.
Sementara kotak satunya, berisi kisah kita. Semua tawa, tangis, suka, duka, cinta, prahara, air mata baik yang hadir karena luka atau karena bahagia, aku taruh semuanya. Memang sama-sama tidak bisa menampung seluruhnya di sana karena kisah kita aku harap punya nama selamanya dan itu akan menciptakan cerita sebanyak-banyak-banyaknya. Tapi tidak apa-apa. Kalau memang ia harus membanjiri kota, orang-orang jadi tahu indahnya cerita kita kan, Cinta?
Dua-duanya aku tabung. Kotak kasih itu akan kupakai membeli seluruh kata cinta untuk dituturkan padamu ketika suatu hari nanti aku tidak lagi mampu—semoga dunia mau menjualnya dan menyampaikannya kepadamu sebesar apa yang aku punyai. Sementara kotak kisah kita nanti kupakai untuk membeli ingatan. Biar suatu hari nanti ketika pikun mulai menyerang memori kita yang sifatnya fana, aku tidak lupa.
Mingyu, mungkin nanti kita jadi tua dan mati. Tapi kuharap apapun yang kita miliki hari ini bisa selalu jadi kisah kasih yang abadi. Nanti aku akan minta tolong siapapun untuk selalu menyampaikan kisah kita kepada mereka di masa depan sana: bahwa di waktu-waktu yang telah berlalu, ada kita—Mingyu dan Wonwoo.
Mingyu dan Wonwoo.
Dua nama yang ditakdirkan untuk menyumbang cerita cinta paling indah kepada seluruh jagad raya.
jwwrite.